April 2016: National Geographic Indonesia

9:44:00 AM




Saya mengusahakan diri untuk membaca majalah National Geographic di setiap bulannya. Pada awalnya Muhammad Akhyar yang bertugas membeli majalah ini di setiap bulannya. Bersama majalah Marketeers dan Horison. Dahulu tugas saya adalah membeli dan membaca majalah Tempo. Setelahnya kami biasanya saling meminjam atau berbagi mengenai hal-hal yang menarik. Semakin berjalannya waktu, majalah yang lain menjadi tidak terlalu menarik lagi. Majalah National Geograpic menjadi salah satu yang saya baca rutin di setiap bulannya.

Saya terpikir, bagaimana kalau saya juga membagi hal-hal menarik dari majalah ini kepada teman-teman yang tidak sempat membacanya? Semoga dengan ini, kita bisa bersama-sama semakin mencintai bumi. Saya akan membahasnya dengan singkat, tapi semoga bisa langsung ditangkap hikmahnya ya. Selamat membaca, semoga berkenan.

Pada edisi kali ini, tema utamanya adalah tentang kematian. Kematian yang biasanya kita khawatirkan, bahkan saya takut akan apapun yang berhubungan dengan kematian. Mendengar berita kematian atau bahkan mengalaminya pada orang terdekat adalah hal yang sangat menyedihkan. Kita biasanya menganggap kematian memisahkan. Kematian membuat kita kesepian. Ternyata, di salah satu bagian lain Indonesia, kematian bisa dianggap berbeda. 

Ketika Kematian Bukanlah Berpisah

Sebagai suatu budaya, budaya kematian di Toraja adalah salah satu yang menarik. Saya sebagai seorang muslim menyadari, bahwa ada beberapa hal yang memang bertentangan dengan apa yang saya yakini. Meski begitu, mempelajarinya sebagai suatu budaya adalah bersikap toleransi. Saya senang juga mengetahui latar belakang budaya Toraja dengan pesta besar-besarannya dan tata cara mengebumikan jasad yang khas. 


Bagi orang Toraja, kematian sebuah tubuh bukanlah suatu peristiwa yang sekonyong-sekonyong, membuat hati amat susah, dan merupakan akhir seperti yang dipandang di tempat lainnya. Sebaliknya, kematian hanyalah merupakan satu tahap dalam sebuah proses panjang yang terurai satu demi satu. Orang-orang tersayang yang telah tiada dirawat di rumah selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun setelah ia meninggal. Pemakaman sering kali ditunda selama yang dibutuhkan untuk mengumpulkan keluarga yang tinggal di tempat jauh. Upacara pemakaman terbesar berlangsung selama seminggu dan mengumpulkan sejumlah besar orang Toraja yang kembali pulang dari mana pun tempat tinggal mereka di penjuru dunia. Saat iring-iringan yang terdiri dari seratus atau lebih motor dan mobil meraung melintasi kota mengiringi jenazah yang tengah dibawa pulang dari tempat jauh, lalu lintas akan berhenti. Di sini, kematian mengalahkan kehidupan.

Tanah Toraja, salah satu tempat yang 'merayakan' kematian dengan pesta. Orang-orang yang sudah meninggal jasadnya tidak segera dikuburkan, tetap dibaringkan di dalam rumah. Hanya dianggap sebagai orang yang sakit. Biasanya menuggu waktu yang tepat untuk dikebumikan, entah menunggu sanak saudara atau biaya yang mumpuni untuk menyelenggarakan pesta

Kematian bagi orang Toraja justru dianggap sebagai pusat kehidupan. Mereka yakin bahwa hubungan antar orang tetap berlangsung sampai sesudah kematian. 

Read more: Ketika Kematian Bukanlah Berpisah.. 

Sains Kematian: Menuju Seberang 

Setelah batita Gardell Martin jatuh ke sungai penuh es pada Maret 2015, dia mati selama lebih dari satu setengah jam. Tiga setengah hari kemudian dia keluar dar rumah sakit dalam keadaan hidup dan sehat. Kisahnya merupakan salah satu dari banyak kisah yang mendorong para ilmuwan mempertanyakan makna kematian. 

Kita mungkin sebagai orang awam juga mulai mengetahui, khususnya bagi yang memiliki minat dengan isu-isu kedokteran. Bahwa yang namanya kematian itu adalah hal yang beraneka ragam. Tidak hanya ada satu definisi yang menjadi indikator dari kematian. Terkadang dalam beberapa kasus, meski nafas masih ada, namun aktivitas otak sudah mati, itu pun sudah dinyatakan sebagai kematian. Tentu bagi kita yang bukan dokter akan sangat sulit menerimanya, karena kita tahu ia masih bernafas. Selain itu, bantuan alat-alat juga membantu tubuh kita berfungsi, hanya saja aktivitas otak tetap tidak ada. Masa-masa seperti ini yang membingungkan. Kita berharap orang terkasih akan 'bangun' kembali. Kita berhadap keajaiban, tapi tenaga medis pasti tahu, bahwa hal tersebut hampir tidak mungkin terjadi. 

Saya penggemar serial TV Grey's Anatomy dan House, M.D., melihat beberapa kasus yang bercerita tentang batas-batas kematian membuka wawasan saya, bahwa ternyata kematian tidak sesederhana seperti tombol on-off dari terang kemudian menjadi gelap. 

Pada artikel ini juga dijelaskan mengenai usaha resusitasi yang dalam beberapa kasus apabila dilakukan secara gigih dan bermutu, bisa mengembalikan seseorang yang 'mati' ke dalam kondisi 'hidup'. Beberapa pengalaman Near Death Experience yang ada juga menarik untuk saya baca


Pada dasarnya, edisi tentang kematian ini mengingatkan, membuka mata saya, terkadang saya juga miris. Jangan-jangan sebenarnya kalau Indonesia memiliki teknologi medis yang lebih canggih, banyak orang yang 'bisa kita selamatkan' dari 'kematian'.

Read more: Sains Kematian

Membaca tentang kematian ini, pada dasarnya saya tetap percaya itu adalah takdir dari Tuhan. Pada akhirnya, kematian juga menjadi sebaik-baiknya pengingat untuk diri kita. Mungkin kita berpikir teknologi untuk 'menunda' kematian adalah hal yang menyeramkan, tetapi untuk saya pribadi, atas nama ilmu pengetahuan, ini adalah hal yang juga membuat penasaran. Saya pribadi sangat menganjurkan artikel sains kematian di atas untuk kamu baca. Sangat mencerahkan.

Semoga bermanfaat.

You Might Also Like

0 comments

Haniva Az Zahra. Powered by Blogger.