Hal-Hal yang Menurut Saya Anda Perlu Ketahui tentang 26 Desember (2)

5:53:00 PM

Ini adalah tulisan dari kak Akhyar, yang ia tulis 16 Januari 2016. Tulisan ini ia tulis sebagai bahan refleksi di hari ke 20 pernikahan. Belum ada apa-apanya memang ya. Membacanya lagi di usia pernikahan yang hampir 9 bulan ternyata cukup menyenangkan. Saya ingin lebih mudah membaca tulisan ini di waktu yang akan datang. Jadilah saya memindahkan tulisan ini ke halaman blog saya sendiri hehe.  

Secara umum, pada tulisan ini dijelaskan beberapa hal yang melatarbelakangi tanggal 26 Desember 2015. Tanggal tersebut kami pilih sebagai tanggal pernikahan. Selamat membaca, semoga terhibur. 


Saya merasa pertemuan saya dengan Haniva Az Zahra adalah bentuk lain kebaikan Tuhan (saya harap anda tak perlu terlalu serius mencari tahu apakah gambaran saya tentang konsep ini seiring sejalan dengan yang anda miliki) kepada saya. Bayangkan saja, saya yang lahir di Tanjung Balai, kota yang berada di pesisir Timur Sumatera, kok ya bisa-bisanya bertemu dengan seorang perempuan yang lahir di Yokohama, Jepang. Orang-orang Melayu memang punya pepatah “asam di gunung, garam di laut, bertemu jua dalam belanga”, tetapi saya sungguh tak menduga perkara “jodoh tak kan ke mana” ini bersangkut-kait juga dalam hidup saya.
Jikalau mau didramatisasi pertemuan saya dengan Haniva Az Zahra ini sangat mungkin tak akan terjadi jika beberapa plot hidup saya dan ia agak berbeda. Perkara ini, saya jadi teringat beberapa buku sejarah yang sedang populer. Beberapa penulis sejarah belakangan tak lagi bicara tentang sejarah yang telah terjadi, tetapi juga sejarah yang tak terjadi. Mereka menamakannya eksperimen pikiran. Dalam pelajaran bahasa Inggris dulu kita mengenalnya di bab if clause. Eksperimen pikiran dalam melihat sejarah membuat kita mengetahui seberapa penting suatu peristiwa di masa lalu mempengaruhi kita hari ini. Di tulisan saya yang lalu, saya cuplik sedikit metode ini, jika seandainya Lisboa tak luluh lantak pada 15 November 1755, Indonesia mungkin tak pernah ada, mungkin saya (kalau pun ada) akan bernama Ricardo Leite, mungkin juga yang juara dunia lima kali bukan Brasil tetapi negeri ini (entah apa namanya).
Kembali ke perihal dramatisasi di atas. Jarak usia saya dan Haniva Az Zahra adalah lima tahun. Jarak waktu yang cukup membuat saya dan ia mustahil bertemu di Fakultas yang sama (kecuali jika saya adalah tipe mahasiswa yang hobi bermain layangan, sehingga waktu lulus pun ikut diulur. Masalahnya, saya haqul yaqin jika saya malah belum lulus setelah kuliah lima tahun, Haniva Az Zahra tak akan pernah tertarik dengan saya. Ia tak pernah suka dengan pria-pria yang berlama-lama kuliah. Katanya pria-pria jenis itu adalah jenis pria yang tak tahu prioritas hidup. Alamak.), Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Kemustahilan ini semakin besar karena di tahun 2005, ketika saya lulus SMA, saya malah masuk ke FMIPA Universitas Negeri Medan via jalur PMDK. Konyolnya, hal ini bukanlah sesuatu yang saya suka. Saya masih sering menggelengkan kepala jika mengingat apa yang telah saya lakukan waktu itu, beberapa bulan sebelum lulus SMA. Dengan segala hasrat keisengan yang saya miliki, saya menuliskan nama saya di lembar formulir PMDK untuk jurusan Fisika Unimed. Saya masih ingat, hal itu saya lakukan karena saya yakin saya tak akan lolos. Saya mendapat kabar jika sekolah saya hanya mendapat satu jatah kursi ke kampus itu. Pikiran polos saya waktu itu berkata, “tak mungkin saya orangnya.” Dan ternyata saya salah.
Setelah setahun bergelut dengan angka dan laboratorium saya akhirnya keluar dari kampus itu. Saya tak punya anggapan menjadi guru fisika adalah pekerjaan pinggiran. Saya keluar justru karena saya yakin bahwa saya tak akan mampu menjadi seseorang di bidang fisika (dalam artian meraih Nobel atau menemukan teori mutakhir tertentu). Otak saya tak kuat menghadapi kegiatan fardu ain bernama menurunkan rumus (konyolnya, ketika belajar di bidang psikologi saya juga menyadari saya pun tak akan mungkin menjadi seseorang yang begitu hebat di bidang ini). Tahun 2006 akhirnya saya berangkat juga ke Jakarta. Hijrah untuk belajar ilmu psikologi.
Tahun 2007, seorang siswa setara SLTP mempersiapkan diri untuk bisa memasuki SMA yang ia inginkan. Salah satu SMA terbaik di negeri ini, SMA Insan Cendikia. Apa nyana, ia tak lolos seleksi. Ia mengubah rencana hidupnya (saya tak bisa membayangkan anak berumur empat belas tahun melakukan ini), ia memilih SMA Negeri yang memiliki program akselerasi. Ia ingin menyelesaikan sekolahnya lebih cepat, sehingga lebih cepat pula ia bisa memasuki kampus yang ia idamkan: Fakultas Psikologi (kaki saya masih gemetar menulis ini. Tahun 2007 saya sudah berkuliah di sana dan tak benar-benar tahu mengapa saya bisa berada di sana dan mempelajari apa sebenarnya ilmu psikologi itu. Lalu di seberang sana ada seorang remaja perempuan yang sudah begitu yakin dengan pilihan keilmuan yang akan ditempuh). Waktu bergulir cepat. Tahun 2009, ia masuk ke Fakultas Psikologi Universitas Indonesia setelah dua kali ujian, SIMAK UI dan SNMPTN (hanya ini yang bisa saya banggakan dari perempuan ini. Perkara bagaimana bisa masuk UI. Ia harus ikut bimbingan belajar dan belajar tekun menyelesaikan latihan soal, itu pun harus dua kali ikut ujian baru lulus. Sementara saya bisa lulus tanpa sempat mempersiapkan apa-apa sebelum ujian karena harus menyelesaikan berbagai tugas akhir semester dan UAS, hehehe. Jangan tiru ya.). Perempuan itu bernama Haniva Az Zahra.
Andai saya tak berkuliah dahulu setahun dan Haniva Az Zahra lulus di Insan Cendikia, saya kemungkinan besar akan bertemu Haniva Az Zahra di Balairung Universitas Indonesia. Saya sebagai wisudawan, ia mahasiswa baru. Saya petantang-petenteng dengan toga kebesaran di bawah. Ia sibuk antre untuk mencari tempat suara sopran berada di sebelah atas. Bahkan bertatap pun saya rasa tak akan terjadi. Saya bergidik membayangkan hal itu.
Anda belum puas dengan skenario dramatis tadi? Anda mau saya suguhkan kisah yang lebih? Baiklah, saya akan memberi naskah cerita yang akan memenuhi kebutuhan hasrat melankolia anda untuk beberapa minggu ke depan.
Awal tahun tujuh puluhan, seorang pria bertubuh kecil, sedang memanjat kelapa. Di daerah itu memang lazim memetik kelapa dengan memanjat batang kelapa hingga ke pelepah yang belasan meter jauhnya di atas sana. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya dari bawah.
“Oi Mar, turun kau dulu.”
Demi mendengar seruan itu, bergegas ia turun.
“Ada apa Pak Cik?”
“Mau kau jadi guru? Kalau kau mau ikut aku ke Medan.”
Pria itu termenung. Setelah lulus dari SMP ia memang tak langsung melanjutkan sekolah. Keterbatasan biaya membuatnya harus langsung bekerja. Akan tetapi ia pun ingat betapa menyelesaikan SMP bukanlah perkara gampang. Ia harus bersusah payah menjalaninya. Ia harus bersepeda bolak-balik dari rumah ke sekolah tiga puluh kilometer jauhnya. Belum lagi jikalau musim hujan, ia harus pula menggotong sepeda yang beratnya nauzubillah itu berkilo-kilometer melintasi jalan yang berlumpur. Ia berpikir, tak cocok rasanya harga kelelahan menjalani SMP yang sedemikian itu dibayar dengan naik-turun kelapa setiap hari.
Sampailah ia di Medan. Ada masalah besar yang harus ia hadapi. Perkara teknis memang, akan tetapi mengacaukan rencananya. Ia gagal seleksi Sekolah Pendidikan Guru Negeri di Medan karena kurangnya tinggi badan. Ia bisa saja memilih patah arang lalu menghujat dunia. Akan tetapi ia tak melakukan itu. Ia mencari alternatif. Ia pun memilih bersekolah di SPG di tempat lain. Agar tak terkena penalti dengan alasan tinggi, ia putar haluan mencari sekolah swasta.
Setelah lulus ia pulang ke kampung. Sembari menunggu pembukaan kesempatan menjadi guru, ia melakukan pekerjaan lain. Ia menjadi ojek dengan menyewa sepeda motor orang lain. Penghasilan yang ia peroleh lumayan untuk ukuran akhir tahun 70an. Hampir tiga puluh ribu Rupiah. Dari penghasilan itu ia bahkan berhasil membeli sepeda motor sendiri. Ia sempat gundah ketika pertama kali diangkat menjadi guru, gaji yang ia terima dalam sebulan hanya setengah penghasilan ojeknya, lima belas ribu perak. Entah bagaimana, ia putuskan untuk terus mengabdi sebagai guru. Guru SD.
Pria itu adalah papa saya. Saya sulit membayangkan seandainya ia mengikuti jejak kawan-kawan sekampungnya yang sudah DO sejak kelas satu atau dua SMP karena tak kuat bersepeda sejauh itu setiap hari. Saya juga tak berani berspekulasi apa yang akan terjadi seandainya ia tak pergi ke Medan dan menjalani hidup yang damai di kampungnya. Saya juga tak bisa mereka-reka bagaimana jika ia akhirnya keluar dari pengabdiannya sebagai guru SD dan mencari pekerjaan yang lebih menguntungkan secara finansial.
Tentu saja, andaipun saya ada, saya tak akan bisa menulis “Anak Guru SD” dibio akun media sosial saya (agak dangkal ya?). Akan tetapi, saya yakin hal itu justru akan berdampak besar buat hidup saya. Perkenalan saya dengan buku dan mencintai pengetahuan karena saya dekat dengan kehidupan pendidikan. Sedari kecil saya bisa keluar-masuk perpustakaan sekolah sesuka hati saya. Setiap kali saya menunjuk buku di setiap pasar Jumat yang saya kunjungi bersama Papa, ia selalu menganggukkan kepala dan segera mengeluarkan dompet. Saya agak kurang yakin jika beliau bukanlah guru, hal-hal yang saya miliki saat ini, mungkin tak pernah ada. Kegemaran saya membaca, kesukaan saya pada hal-hal baru, kecanduan saya pada politik yang membuat saya berkeinginan masuk UI (saya ingin masuk ke UI karena suatu saat di masa saya, saya pernah terpukau melihat heroisme jaket kuning yang menggoyang Orde Baru) mungkin tak akan muncul jikalau bukan distimulasi oleh beliau (yang guru SD). Dan jika jalan itu yang terjadi, mungkin malah sedang terjadi dengan Muhammad Akhyar di dunia paralel lain, Muhammad Akhyar yang itu saya kira tak akan menemui Haniva Az Zahra-nya dan tak akan memiliki 26 Desember.
Sayup-sayup saya mendengar Muhammad Akhyar yang itu menggugat, “bukannya engkau bilang selalu ada harapan?”
Benar juga. 
Jika anda lebih suka membaca dalam bentuk pointers, bisa langsung ke sini

You Might Also Like

5 comments

Haniva Az Zahra. Powered by Blogger.